Selasa, 11 Maret 2014

Sejarah dan Asal-usul Kata Bantimurung


BANTIMURUNG berasal dari kata benti merrung (Bahasa Bugis halus) yang berarti air bergemuruh. Nama tersebut diusulkan oleh Karaeng Simbang, Patahoeddin Daeng Paroempa (Simbang adalah salah satu kerajaan dalam distrik adat Gemenschaap dan berada dalam wilayah kerajaan Maros). Berawal dari kata benti merrung itulah kemudian berubah bunyi menjadi Bantimurung. (Foto: wikipedia.org)




----------------



Mengenal Taman Nasional Bantimurung - Bulusaraung (2-bersambung):

 

Sejarah dan Asal-usul Kata Bantimurung



Oleh: Asnawin
(Wartawan, Penulis, Dosen)


Sebelum berbicara lebih jauh tentang kawasan wisata Bantimurung atau Taman Nasional Bantimurung - Bulusaraung, ada baiknya kita tengok sedikit sejarah dan asal usul kata Bantimurung.

Sejarah dan asal usul kata Bantimurung dimulai sejak masa Perjanjian Bungaya I dan II (1667-1669) saat Maros ditetapkan sebagai daerah yang dikuasai langsung oleh Belanda. Ketika itu, wilayah kerajaan Maros diformulasikan dalam bentuk Regentschaap yang dipimpin oleh penguasa bangsawan lokal bergelar Regent (setingkat bupati).

Setelah itu, Maros berubah menjadi Distrik adat Gemeschaap yang dipimpin oleh seorang kepala distrik yang dipilih oleh bangsawan lokal dengan gelar Karaeng Arung atau Gallarang. Kerajaan Simbang merupakan salah satu distrik adat Gemenschaap yang berada dalam wilayah kerajaan Maros. Distrik ini dipimpin oleh seorang bangsawan lokal bergelar "karaeng."

Pada sekitar tahun 1923, Patahoeddin Daeng Paroempa, diangkat menjadi Karaeng Simbang. Dia mulai mengukuhkah kehadiran kembali Kerajaan Simbang dengan melakukan penataan dan pembangunan di wilayahnya. Salah satu program yang dijalankannya ialah dengan melaksanakan pembuatan jalan melintas Kerajaan Simbang agar mobilitas dari dan ke daerah-daerah sekitarnya menjadi lancar.

Pembuatan jalan ini, rencananya akan membelah daerah hutan belantara. Sayangnya, pekerjaan tersebut terhambat akibat terdengarnya bunyi menderu dalam hutan yang menjadi jalur pembuatan jalan tersebut.

Saat itu, para pekerja tidak berani melanjutkan pekerjaan pembuatan jalan, karena suara gemuruh tersebut begitu keras. Karaeng Simbang yang memimpin langsung proyek ini lalu memerintahkan seorang pegawai kerajaan untuk memeriksa ke dalam hutan belantara dan mencari tahu dari mana suara bergemuruh itu berasal.

Setelah melakukan perjalanan singkat ke dalam kawasan hutan untuk mencari tahu dari mana suara bergemuruh berasal, pegawai kerajaan langsung kembali melapor kepada Karaeng Simbang. Namun sebelum melapor, Karaeng Simbang terlebih dahulu bertanya.

Aga ro merrung?,” tanyanya. (Bahasa Bugis; yang berarti: "apa itu yang bergemuruh?")

Benti, puang (air, tuanku)," jawab sang pegawai kerajaan. (Benti adalah bahasa bugis halus atau tingkat tinggi untuk air)

Merasa penasaran, Karaeng Simbang mengajak seluruh anggota rombongan untuk melihat langsung air bergemuruh tersebut. Sesampainya di tempat asal suara, Karaeng Simbang langsung terpana dan takjub menyaksikan luapan air begitu besar merambah batu cadas yang mengalir jatuh dari atas gunung.

Makessingi kapang narekko iyae onroangnge' diasengi benti merrung! (mungkin ada baiknya jika tempat ini dinamakan air yang bergemuruh)," ujar Karaeng Simbang, Patahoeddin Daeng Paroempa.

Berawal dari kata benti merrung itulah kemudian berubah bunyi menjadi bantimurung. Penemuan air terjun tersebut membuat rencana pembuatan jalan tidak dilanjutkan. Malahan, daerah di sekitar air terjun dijadikan sebagai sebuah perkampungan baru dalam wilayah Kerajaan Simbang. Kampung ini dikepalai oleh seorang Kepala Kampung bergelar "Pinati Bantimurung."

----------------

Sumber referensi:
-- http://www.dephut.go.id/index.php/news/details/3105
-- http://www.dephut.go.id/uploads/INFORMASI/TN%20INDO-ENGLISH/tn_index.htm
-- http://bantimurung.maroskab.go.id/sejarah-bantimurung
-- http://id.wikipedia.org/wiki/Taman_Nasional_Bantimurung_Bulusaraung
-- http://id.wikipedia.org/wiki/Hutan_lindung
-- http://id.wikipedia.org/wiki/Alfred_Russel_Wallace
-- http://id.wikipedia.org/wiki/Stalaktit
-- http://id.wikipedia.org/wiki/Tujuh_Keajaiban_Dunia
-- http://id.wikipedia.org/wiki/Tujuh_Keajaiban_Dunia_Baru
-- http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php
-- Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999, tentang Kehutanan
-- Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990, tentang Konsenvasi Sumber Daya Alam Hayati dan ekosistemnya
-- http://www.tn-babul.org/index.php?option=com_content&view=article&id=64&Itemid=169
-- http://www.tn-babul.org/index.php?option=com_content&view=article&id=525%3Athe-kingdom-of-butterfly&catid=74%3Abranding&Itemid=171
-- http://www.tn-babul.org/index.php?option=com_content&view=article&id=62&Itemid=171
-- http://www.tn-babul.org/index.php?option=com_content&view=article&id=524%3Athe-spectacular-tower-karst&catid=74%3Abranding&Itemid=179
-- http://www.tn-babul.org/index.php?option=com_content&view=article&id=122&Itemid=183
-- http://www.tn-babul.org/index.php?option=com_content&view=article&id=118&Itemid=191
-- http://www.tn-babul.org/index.php?option=com_content&view=article&id=158&Itemid=208
-- http://www.tn-babul.org/index.php?option=com_content&view=article&id=121&Itemid=209
-- http://www.tn-babul.org/index.php?option=com_content&view=article&id=519&Itemid=218
-- http://www.tn-babul.org/index.php?option=com_content&view=article&id=520&Itemid=219
-- http://www.tn-babul.org/index.php?option=com_content&view=article&id=521&Itemid=220
-- http://www.tn-babul.org/index.php?option=com_content&view=article&id=522&Itemid=221
-- http://www.tn-babul.org/index.php?option=com_content&view=article&id=523&Itemid=222
-- http://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/travelling/14/03/09/n26epa-taman-bulu-saraung-kembangkan-tujuh-objek-wisata

Tidak ada komentar:

Posting Komentar