Rabu, 26 Februari 2014

Andalkan Track Record, Nurdin Abdullah Menang Telak di Bantaeng


TAK KAMPANYE. Nurdin Abdullah tak banyak kampanye. Bahkan disebut-sebut, ia tidak perlu memasang baliho. Profesor Ilmu Kehutanan Unhas itu hanya mengandalkan track record selama lima tahun terakhir, sejak ia mulai menata dan membangun daerah serta beragam penghargaan yang diraih daerahnya. Usai pencoblosan 17 April 2013, suara Nurdin dan Yasin melesat dalam hitung cepat. Ia memperoleh 83 persen suara. (int)




-------------------

Andalkan Track Record, Nurdin Abdullah Menang Telak di Bantaeng


Triono Wahyu Sudibyo - detikNews
Kamis, 20/02/2014
http://news.detik.com/read/2014/02/20/124451/2503250/10/mirip-jokowi-nurdin-tak-perlu-kampanye-untuk-terpilih-lagi-jadi-bupati?n992204fksberitadsfdsf

Jakarta - Sebelum menjadi gubernur DKI, Jokowi merupakan wali kota fenomenal. Ia sukses memimpin Kota Solo, lalu terpilih lagi dengan mendapatkan suara nyaris 90 persen. Sukses serupa juga dialami Bupati Bantaeng, Sulawesi Selatan, Nurdin Abdullah (50).

Nurdin berpasangan dengan HM Yasin dalam Pilkada 2013 lalu. Keduanya tidak didukung partai kecil sebagaimana terjadi di Pilkada 2009. Partai Golkar merapat, juga Partai Demokrat dan PAN. Selain itu dukungan juga berasal dari PKS, Partai Hanura, dan PKNU.

Ada tiga pasangan yang jadi pesaing Nurdin dan Yasin, yakni Rahmat Rahman-Imran Massualle (PBR, PDP, Pelopor, Partai Barnas, dan PPP), Jabal Nur-Mansyur-Djonkeng (PDIP dan 8 partai kecil), dan Nur Jaya-Idrus Hamjal (jalur independen).

Nurdin tak banyak kampanye. Bahkan disebut-sebut, ia tidak perlu memasang baliho. Profesor Ilmu Kehutanan Unhas itu hanya mengandalkan track record selama lima tahun terakhir, sejak ia mulai menata dan membangun daerah serta beragam penghargaan yang diraih daerahnya.

Usai pencoblosan 17 April 2013, suara Nurdin dan Yasin melesat dalam hitung cepat. Ia memperoleh 83 persen suara. Pesaingnya Rahmat Rahman-Imran Massualle (10,91 persen), Nur Jaya-Idrus Hamjal (3,64 persen), dan Jabal Nur-Mansyur-Djonkeng (2,21 persen).

Hasil luar biasa ini mirip yang dialami Jokowi dalam pilkada Solo 2010. Saat itu, Jokowi yang maju sebagai wali kota untuk kedua kalinya menang telak. Bersama pasangannya, FX Hadi Rudyatmo, ia meraup 89 persen dan mengalahkan Eddy Wirabhumi - Supradi Kertamenawi yang diusung Partai Demokrat, Partai Golkar, Hanura dan beberapa partai lainnya.

Jokowi dan Nurdin menang pilkada dengan mudah karena sama-sama dianggap sukses berkiprah membangun daerah. Juga sama-sama meraup suara di atas 80 persen. Angka yang luar biasa di tengah rendahnya partisipasi politik pemilih.

Nurdin lahir di Pare-pare, Sulawesi Selatan. Ia meniti karier sebagai pengajar di Unhas dan pengusaha. Sebagai bupati, lulusan Kyushu University Jepang ini meraih 50 penghargaan dan dimasukkan dalam capres alternatif versi Komunike Bangsa Peduli Indonesia (KBPI).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar