Sabtu, 08 Februari 2014

Sejarah Kota Makassar (5)


PRASASTI. Tidak diragukan lagi, nama Makassar menjadi buar bibir dan harum di beberapa negara karena perjuangan, kebesaran, dan ketokohan Syech Yusuf. Syech Yusuf adalah putra asli suku bangsa Makassar. Ia adalah anak dari Raja Gowa ke-14, Sultan Alauddin (memerintah pada 1593-1639) dari isterinya Sitti Aminah (bukan permaisuri). Syech Yusuf lahir pada 1626, ketika ayahnya giat melakukan Islamisasi ke dalam masyarakat Sulawesi Selatan. (int)


------------------


Sejarah Kota Makassar (5-bersambung):


Putra Makassar Pimpin Laskar Banten


Tidak diragukan lagi, nama Makassar menjadi buar bibir dan harum di beberapa negara karena perjuangan, kebesaran, dan ketokohan Syech Yusuf.

Syech Yusuf adalah putra asli suku bangsa Makassar. Ia adalah anak dari Raja Gowa ke-14, Sultan Alauddin (memerintah pada 1593-1639) dari isterinya Sitti Aminah (bukan permaisuri). Syech Yusuf lahir pada 1626, ketika ayahnya giat melakukan Islamisasi ke dalam masyarakat Sulawesi Selatan.

''Oleh orangtuanya, Syech Yusuf dipersiapkan menjadi mubaligh untuk memantapkan ajaran Islam dalam kerajaan. Sejak remaja, ia belajar ilmu agama pada Sayed Ba' Alwy bin Abdullah Tahir, di Bontoala,'' tutur antropolog dari Unhas yang kini menjabat Rektor Universitas 45, Makassar, Prof Dr H Abu Hamid.

Hal tersebut diutarakan pada seminar nasional 400 Tahun Makassar, bertema "Menemukenali dan Merangkai Sejarah dan Budaya Makassar", di Hotel Sahid Makassar, 30 Juni 2007.

Abu Hamid dalam makalahnya mengatakan, ketika berusia 18 tahun, Syech Yusuf berangkat ke Banten, lalu ke Aceh untuk memperdalam ilmu agamanya. Setelah itu, ia ke Tanah Hijaz (negeri Yaman, Mekah, dan Madinah) dan Damaskus.

Tahun 1664, Syech Yusuf kembali ke Hindia Timur (Indonesia) memenuhi undangan Sultan Banten, Sultan Ageng Tirtayasa, yang sedang bersiap-siap menghadapi serangan kompeni.

Strategi Kompeni untuk mengamankan penjajahan, mula-mula memerangi Kerajaan Gowa yang dikenalnya sebagai raksasa maritim pada masa itu dan menguasai bagian timur Hindia Timur.

''Giliran berikutnya adalah Kerajaan Banten yang menjadi pusat perdagangan di bagian barat,'' ungkap Abu Hamid.

Perang antara Kerajaan Banten dengan Kompeni tak dapat dihindarkan dan berlangsung antara tahun 1682-1683 (22 bulan). Sultan Ageng Tirtayasa tertangkap (Maret 1683) dan lasykar pasukan kemudian dipimpin oleh Syech Yusuf.

Lasykar yang berjumlah sekitar 5.000 orang itu terdiri atas orang Makassar, orang Bugis, orang Melayu, dan orang Jawa.

Singkat cerita, Syech Yusuf bersama pasukannya terdesak dan kemudian bergerilya, sehingga Kompeni kewalahan mengejar dan menumpasnya. Tetapi berkat tipu muslihat yang dilakukan Kompeni, antara lain dengan menyandera Sitti Asma, anak Syech Yusuf, akhirnya Kompeni berhasil menangkap Syech Yusuf.

Syech Yusuf kemudian ditahan, sedangkan sebagian anggota pasukannya yang terdiri atas orang Makassar dan orang Bugis, dipulangkan ke Makassar pada 23 Januari 1684.

Selanjutnya Syech Yusuf bersama keluarga dan komandan pasukan yang setia kepadanya, dibawa ke Batavia (Jakarta) dan dimasukkan ke dalam kastle (benteng).

Sekitar enam bulan lamanya Syech Yusuf berada di dalam benteng dan dijaga ketat agar tidak lolos berhubungan dengan penduduk, bahkan diberitakan sudah meninggal.

Itu dilakukan oleh Kompeni karena pengaruh Syech Yusuf cukup luas dan berakar di tengah penduduk Priangan. Ia dipuja bak orang suci dan sufi. Karena dianggap sebagai ancaman, Kompeni pada 12 Desember 1684 kemudian memutuskan akan mengasingkan Syech Yusuf ke Ceylon (Srilanka).

Meskipun demikian, Syech Yusuf baru diasingkan ke Srilanka ketika usianya sudah 58 tahun. Turut diasingkan, dua istri, dua wanita pembantunya, 12 santrinya, serta beberapa orang putra-putrinya.

Dalam pengasingan itu, nama Syech Yusuf malah menjadi terkenal di Srilanka. Ia mengajarkan syariat dan tasawuf kepada murid-muridnya yang datang dari India (Hindustan) dan masyarakat Srilanka yang sebagian besar beragama Buddha. Ia juga menulis risalah-risalah ajarannya, beramal, dan mengajar.

Di Srilanka, Syech Yusuf membina semangat perjuangan, semangat keagamaan, dan pembinaan kepribadian pemimpin. Kehadirannya kemudian dikenal sebagai permulaan adanya Islam di Srilanka dan sebagian di Hindustan (India).

Kaisar Hindustan, Aurangzeb Alamgir (1659-1770) yang cinta kehidupan mistik, sangat menghormati Syech Yusuf. Ia pernah bersurat kepada wakil pemerintahan Kompeni di Srilanka, supaya kehormatan pribadi Tuan Syech Yusuf dipelihara, karena jika tuan itu diganggu, akan menggelisahkan umat Islam di Hindustan. (asnawin/pr)

------------
Keterangan:
-- Artikel ini dimuat di harian Pedoman Rakyat, Makassar, Senin, 13 Agustus 2007, halaman 17/Humaniora

Tidak ada komentar:

Posting Komentar